Popularitas penyair dari Lebanon “Kahlil Gibran” ini, telah melampaui jauh penyair di manapun pada zamannya.

Bahkan Kahlil Gibran tercatat dalam sejarah, sebagai penyair yang terkenal dengan karya-karyanya yang paling masyur ke-3 sepanjang masa, setelah Shakespeare dan Lao-Tzu.

Prosa dan puisinya yang dirangkai, telah memberikan inspirasi bagi sendi-sendi kehidupan di dunia ini. Mulai dari lirik lagu, pidato-pidato politik hingga dibacakan pada berbagai acara pernikahan.

Nah, dikesempatan kali ini saya akan menjelaskan tentang, bagaimana sih perjalanan kehidupan seorang penyair yang terkenal ini?, yuk langsung simak pembahasan berikut ini.

Biografi dan Perjalanan Hidup Kahlil Gibran

biografi dan perjalanan hidup

google.com

Kahlil Gibran adalah seorang sastrawan yang beraliran romantik. Ia adalah seorang penyair yang tekenal dengan karya-karyanya yang mencermikan gabungan antara adat timur dan barat.

Kahlil Gibran lahir pada tanggal 6 Januari 1883 di daerah Beshari, Lebanon. Beshari sendiri merupakan daerah yang sering disinggahi oleh bencana alam seperti badai, gempa serta petir.

Tak heran jika sejak kecil mata Gibran sudah terbiasa dengan fenomena-fenomena alam tersebut, inilah yang nantinya tulisan-tulisan Kahlil Gibran tentang alam banyak mempengaruhi di berbagai belahan dunia.

Nama aslinya sebenarnya adalah Khalil Gibran. Tetapi karena kesalahan penulisan di ijazah saat sekolah di Amerika Serikat sehingga banyak juga yang menulis namanya dengan Kahlil Gibran.

Keluarga Gibran adalah keluarga Kristen Maronit, Ayahnya bernama Khalil bin Gibran seorang penggembala yang mempunyai kebiasaan merokok pipa air (narjille) dan memainkan Taoula.

Ibunya bernama Kamila, adalah anak dari seorang pendeta Maronit, Estephanos Rahmi yang berstasus janda sebelum menikah dengan Khalil bapaknya.

Pada usinya yang menginjak 10 tahun, Kahlil Gibran bersama ibunya beserta dua saudaranya akan pergi ke Boston, Amerika Serikat sebab adanya kesusahan ekonomi di Lebanon.

Sejak di Amerika ia mulai belajar seni dan mengawali kariernya sebagai sastrawan, bersekolah umum di Boston.

Selama 2 tahun sekolah di sana, bakat sastranya serta melukisnya mulai berkembang sejak besekolah umum di Boston pada tahun 1895-1897.

Setelah menyelesaikan pendidikan dasarnya di Boston, Kahlil Gibran kembali lagi ke Lebanon untuk mendalami pembelajaran bahasa Arab dan mengetahui beberapa karya sastrawan Arab terdahulu.

Sesuai dengan terkabulnya keinginan ibunya. Akhirnya dalam jangka waktu antara tahun 1896-1901, ia menempuh pendidikan selanjutnya di sekolah terkemuka di Beirut yang bernama “Madrasah Al-Hikmah”.

Di madrasah ini, ia belajar Hukum Internasional, ketabiban, musik, serta tak lupa dengan sejarah Agama.

Pada tahun 1898 ia menjadi penyunting pada majalah sastra serta filsafat. Dengan kekaguman para pemikir besar arab dalam seni lukisnya.

Pada tahun 1900 ia membuat suatu sketsa wajah penyair Islam semacam Abu Nawas, Al-Farid, Al-Mutanabbi, juga para wajah filsafat semacam Ibnu Sina.

Kahlil Gibran Saat di Paris

Nah, saat ia berumur 19 tahun setelah selesai sekolahnya di Madrasah, akhirnya ia memutuskan untuk pergi ke Paris.

Tetapi ingatannya tak bisa terlepas begitu saja dari Lebanon. Lebanon telah menjadi inspirasi baginya. Begitupun di Boston ia menulis mengenai negerinya itu untuk mengekspresikan dirinya.

Ini yang kemudian justru membuat keleluasaan untuk menggabungkan 2 pengalaman budayanya yang tak sama menjadi satu.

Ketika di Paris, waktu itu ia mendapat kabar dari Konsulat Jendral Turki, bahwa suatu musibah yang menimpa pada keluarganya.

Adik perempuannya yang paling muda berumur 15 tahun “Sultana”, meninggal karena penyakit TBC. Kemudian ia bergegas untuk kembali ke Boston.

Kakaknya yang bernama Peter, yang menjadi beban nasib saudara-saudara serta ibunya juga meninggal karena TBC. Hanya adiknya lah Marianna, yang selamat dari musibah tersebut.

Pada awal-awal musibah yang dialami mereka berdua, Marianna selalu membantu membiayai penerbitan karya-karya Kahlil Gibran dengan anggaran yang didapat dari hasil menjahit di Miss Teahan’s Gowns.

Dengan berkat kerja keras adiknya itu, Gibran bisa meneruskan potensi yang ia miliki dengan penuh semangat untuk dapat menerbitkan karya-karyanya.

Adapun karya-karyanya antara lain:

Yang berbahasa Arab

  • Nubthah fi Fana Al Musiqa terbit 1905
  • Ara’is al Muruuj (Nymps of Valley) terbit 1906
  • Al Arwatul Mutamarridah (Spirit Pemberontakan) terbit 1908
  • Al Ajniha Al Mutakassirah (Sayap-sayap Patah) terbit 1912

Yang berbahasa Inggris

  • The Mad Man (si Gila) terbit 1918
  • The Prophet (Sang Nabi) terbit 1923
  • Sand and Foam (Pasir dan Buih) terbit 1926
  • Jesus the Son of Man (Jesus, anak Manusia) terbit 1928
  • The Wanderer (Sang Musafir) terbit 1932
  • The Garden of the Prophet (Taman Sang Nabi) terbit 1933

Nah, itulah beberapa karya Kahlil Gibran yang telah diterbitkan ketika berada di Paris, dan juga atas peran adiknya lah yang telah membantu Gibran untuk menerbitkan karya-karyanya.

Masa Remaja dan Dewasa Kahlil Gibran

Selama masa awal remaja, visi dan misinya tentang tanah kelahirannya dan masa depannya mulai terbentuk.

Sifat munafik organisasi gereja, tirani kerajaan Ottoman, dan peran kaum wanita Asia Barat yang sekadar sebagai pengabdi, merubah cara pandanganya yang kemudian dituangkan ke dalam karya-karyanya yang berbahasa Arab.

Ketika Gibran dewasa, pandangannya mengenai dunia Timur meredup. Pierre Loti, seorang novelis Perancis yang sangat terpikat dengan dunia Timur pernah berkata pada Gibran.

“Kalau hal ini sangat mengenaskan! disadari atau tidak, Gibran memang telah belajar untuk mengagumi kehebatan dunia Barat.

Pada tahun 1920, Gibran mendirikan sebuah asosiasi penulis Arab yang dinamakan Arrabithah Al-Alamia (Ikatan Penulis).

Seiring dengan naiknya reputasi Gibran, banyak orang yang kagum dengan karya-karyanya. Salah satunya adalah Barbara Young.

Ia mengenal Gibran setelah membaca karyanya yang berjudul “Sang Nabi”. Barbara Young sendiri merupakan pemiliki sebuah toko buku yang sebelumnya menjadi guru bahasa Inggris.

Selama 8 tahun tinggal di New York, Barbara Young selalu aktif dalam mengikuti kegiatan di studio Gibran.

Kisah Cinta Kahlil Gibran

kisah cinta

pixabay.com

Dalam perjalanan masa muda Kahlil Gibran, ada beberapa hal dan peristiwa yang penuh kesediahan, rasa cintanya kepada Ibu dan keluarganya, rasa cinta kepada tanah airnya dan hubungan cintanya dengan wanita-wanita yang pernah dekat dengan perasaanya.

Cinta romantiknya tak pernah menjadi seperti yang ia harapkan dan berakhir dengan kesedihan.

Meski ia telah mencoba menjalin cintanya beberapa kali dengan beberapa wanita yang amat mempengaruhi hidupnya, sampai akhir hidupnya pun ia tetap hidup dengan kesendirian.

Pengalaman ini membuat tutur bahasa Gibran tentang cinta hampir semua bernuansa kesedihan.

Dan inilah beberapa wanita yang sangat mempengaruhi  Kahlil Gibran.

1. Hala Daher

Kisah cinta pertamanya dengan Hala Daher. Ia merupakan seorang putri dari suatu keluarga aistokrat di Lebanon.

Kisahnya tersebut diabadikan dalam novelnya The Broken Wings (1912), tetapi ketidaksetaraan status sosial yang membatasi cinta antara keduanya.

Gibran mengenal keluarga Tannous Asad Hanna Dakhir, pada saat liburan musim panas kedua di Bisharri. Kemudian Gibran langsung jatuh cinta kepada salah satu putri dari keluarga tersebut yaitu Hala Daher.

Karena hubungan cinta Gibran dengan Hala dilarang oleh kakak Hala, tetap saja mereka selalu bertemu di tempat rahasia mereka yaitu di sebuah hutan dekat biara Mar Sarkis.

Tetapi hubungan mereka tidak bertahan lama, dan berakhir dengan perpisahan menyedihkan.

Dalam karyanya “Sayap-sayap Patah”, Gibran mengenang Hala dengan nama Selma Karamy yang dipaksa menikah dengan keponakan seorang uskup.

“Sayap-sayap Patah” menetapkan Gibran  sebagai seorang pembela hak asasi perempuan pertama di Timur Tengah.

2. Josephine Preston Peabody

Wanita ini adalah seorang penyair, lembut, dan cantik luar biasa. Berusia 24 tahun serta berasal dari keluarga ningrat.

Ketika Ibu Gibran sakit josephinelah yang selalu menghibur Gibran dalam tahun-tahun kesedihannya.

Atas bantuannya juga, lukisan-lukisan Gibran mendapatkan sambutan hangat dari masyarakat dari seninya dan sekaligus menjadikannya seorang seniman.

Josephine menulis puisi pendek yang diberi judul “Hits Boyhoos” dan kemudian mengubahnya menjadi “The Prophet”.

Menurut banyak pengamat, bahwa benih-benih jagung dalam tulisan Gibran yang terakhir “The Prophet” kemungkinan tumbuh ketika berteman dengan wanita lembut ini. (Young, 1927 : 107).

Pada pertemuan pertama mereka, tepatnya di pameran foto Fred Holland Day di Boston Camera Club 1898. Gibran yang waku itu berusia 15 tahun sedangkan Josephine berusia 24 tahun.

Tiga tahun kemudian, sepulang Gibran dari Lebanon mereka makin akrab. Bagi Josephine, hubungannya dengan pemuda Lebanon ini menggugah imajinasinya dan memberinya wawasann ke dalam wilayah pemikiran baru.

Sedangkan bagi Gibran, Josephine menggerakkan di dalam dirinya perasaan-perasaan kuat dengan di ilhami oleh kecantikannya dan kecemerlangnya pikiran-pikiran Josephine. (Brushui dan Joe Jenkins, 2000 : 60-61).

Dan pada ulang tahun Josephine yang ke-31 hubungan mereka berakhir.

3. Mary Elizabeth Haskel

Wanita yang menjabat sebagai seorang Kepala Sekolah di Miss Haskell’s School for Girls di Malborough Street Boston yang terpopuler.

Pembawaannya yang anggun dan ramah ia mengajari murid-muridnya untuk belajar dengan baik.

Pada bulan Desember 1910, Mary dan Gibran makin sering menghabiskan waktu bersama-sama.

Mary selalu membantu Gibran menyempurnakan bahasa Inggrisnya, dan bermalam-malam ia membaca dengan surara keras puisi Swinburne untuk Mary (Bushrui dan Joe Jenkins, 2000 : 141).

Mary amat penting dalam perkembangan Gibran sebagai seorang laki-laki sekaligus Filsuf dengan visi penyair.

Dalam sebuah kalimat ia mengungkapkan hubungan mereka:

Aku tertarik kepadamu dalam suatu cara istimewa, waktu pertama kali melihatmu. Aku kenal banyak orang di Boston waktu itu, orang lain menganggap aku menarik. Mereka senang mengajakku berbicara, karena aku tidak lazim bagi mereka. Tetapi kau benar-benar ingin mendengar apa yang ada di dalam diriku. Kau terus membuatku menggali lebih dalam.

4. May Zaidah

Kisah cinta Gibrab yang satu ini memang sangat romantis, namun hingga ajal menjemput keduanya tidak pernah bertemu.

Kisah Long Distance Relationship (LDR) antara Gibran yang saat itu ia tinggal di New York dan May Zaidah di Mesir memang sangat romantis.

Dalam diri May Zaidah, Gibran Menemukan teman dialog yang seimbang yang mampu  memahami beban batinnya serat mampu memberikan masukan dan dorongan untuk meringankannya.

Di dalam surat-suratnya yang disampaikan kepada May, Gibran banyak mencurahkan segala beban dan angannya baik tentang kondisi kesehatannya, perasaannya, harapan-harapannya, dan kerinduannya akan pertemuannya denga May Zaidah sendiri.

Simbol yang digunakan Gibran untuk mengungkap kedewasaan yang hakiki pada diri manusia. Sekarang juga mulai menjadi simbol cinta abadi kepada May.

Dalam surat-suratnya yang lain, Gibran menggunakan kata “Rindu” untuk mencerminkan suatu kerinduan spiritual.

Suatu cinta yang tidak memerlukan kata-kata untuk mengungkapkannya, karena merupakan himne suci yang terdengar lewat kesunyian malam.

Cinta semacam itu sulit digambarkan.

Sekalipun melibatkan unsur Platonik dan spiritual (Bushrui dan Joe Jenkish, 2000 : 295). Gibran dan May ditakdirkan tidak saling bertemu, tetapi semakin dapat menghayati cinta itu dalam hati mereka msing-masing.

Kisah cinta keduanya tetap abadi dalam lembaran surat yang penuh makna. Walau tidak bertemu di dunia, kisah cinta keduanya dikenang oleh pengagum sastra di penjuru dunia.

Begitulah cinta, walau tidak bisa memiliki, namun rasa yang ada pasti tidak akan pernah mati.

Nah, itulah sekilas cerita beberapa tokoh wanita yang mempengaruhi seorang penyair Kahlil Gibran.

Wafatnya Kahlil Gibran

Pada tanggal 10 April 1931 jam 11.00 malam, Gibran meninggal dunia. Sejak dulu ia mempunyai penyakit di tubuhnya yaitu sirosis hepatis dan tuberkulosis.

Tapi selama dia mempunyai penyakit itu, ia tetap menolak untuk dirawat di rumah sakit. Pada pagi hari terakhirnya, dia dibawa ke St. Vincent’s Hospital di Greenwich Village.

Jenazah Gibran kemudian dikebumikan pada tanggal 21 Agustus di Mar Sarkis, sebuah biara Karmelit di mana Gibran pernah melakukan ibadah.

Sepeninggalan Gibran, Barbara Younglah yang mengetahui seluk-beluk studio, warisan, dan tanah peninggalan Gibran.

Dan juga secarik kertas yang bertuliskan, “Di dalam hatiku masih ada sedikit keinginan untuk membantu dunia Timur, karena ia telah banyak sekali membantuku”.

Penutup

Cukup sekian pembahasaan tentang biografi seorang penyair Kahlil Gibran. Semoga menjadi motivasi bagi kita serta memperluas wawasan kita bahwa dunia ini pernah mempunyai penyair yang hebat.

Baca juga: Jenis-jenis Puisi

Terima kasih.

Kategori: Sastra

0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *