Terkadang semua orang di dunia ini pasti menginginkan kehidupan yang aman dan tentram . Tapi tidak semua orang yang mengalami semua itu.

Saat hidup kita terasa berat, kadang kita harus membaca dan memahami  kehidupan seseorang yang membuat kita tidak lupa untuk bersyukur.

Dengan kita sering membaca kisah kehidupan orang lain, tentu hati kita akan semakin tenang dan tentram dalam menjalani kehidupan ini.

Karena dengan kita membaca cerita tersebut, kita semakin banyak belajar bersyukur, banyak ilmu dan juga banyak pelajaran yang kita dapat dari kisah-kisah itu.

Tidak ada gunanya menyesali hidup dengan membandingkan orang lain dan merasa hidup di dunia ini tidak ada gunanya.

Kumpulan Kisah Inspirasi Islami yang Menyentuh Hati

Berikut kami sajikan beberapa cerita Islami yang semoga dengan ini dapat mengubah hidup kita untuk menjadi lebih baik

Kisah 1: Rasulullah dan Uang 8 Dirham

Suatu hari Rasulullah SAW hendak belanja ke pasar. Dengan bekal uang 8 dirham, beliau hendak membeli pakaian dan peralatan rumah tangga.

Sebelum beliau sampai ke pasar, beliau mendapati seorang wanita yang sedang menangis. Beliau sempatkan untuk bertanya kepada wanita tersebut.

“Kenapa engkau menangis, musibah apa yang sedang engkau alami?”, tanya Rasulullah SAW.

“Aku adalah seorang budak yang sedang kehilangan uang sebesar 2 dirham”, jawab wanita itu sambil menangis tersendu-sendu karena sangat takut ia akan didera oleh majikannya.

2 dirham dikeluarkan dari saku Rsulullah untuk menghibur wanita malang tersebut.

Kini tinggal 6 dirham. Beliau bergegas membeli gamis, pakaian kesukaannya. Akan tetapi baru saja beberapa langkah dari pasar, seorang tua lagi miskin setengah berteriak berkata.

“Barang siapa yang memberiku pakaian, Allah akan membalasnya kelak”.

Melihat itu Rasulullah sangat iba, gamis yang baru dibelinya dilepas dan diberikan dengan sukarela kepadanya. Beliau tak jadi memakainya.

Kemudian beliau segera pulang, akan tetapi lagi-lagi beliau harus bersabar. Kali ini beliau bertemu dengan wanita yang diberi 2 dirham tersebut dan mengadukan persoalannya.

Bahwa ia takut pulang, ia khawatir akan dihum majikannya karena terlambat. Dengan senang hati beliau antarkan sampai ke rumah majikannya.

Sesampainya di rumah, beliau ucapkan salam dan belum ada jawaban. Barulah salam yang ketiga dijawab oleh penghuni rumah.

Ketika ditanya kenapa salam beliau tidak dijawab, pemilik rumah itu mengatakan sengaja melakukannya dengan maksud dido’akan oleh Rasulullah dengan salam 3 kali.

Selanjutnya Rasulullah menyampaikan maskud kedatangannya. Beliau mengantarkan wanita yang menjadi budak ini karena takut mendapat hukuman, beliau pun berkata.

“Jika wanita budak ini salah dan perlu dihukum, biarlah aku yang menerima hukumannya”.

Mendengar ucapan Rasulullah itu penghuni rumah terkesima, dan mendapat pelajaran yang sangat berharga dari baginda Rasulullah ini. Secara reflek mereka berkata.

“Budak wanita ini telah merdeka karena Allah SWT”.

Betapa bahagianya Rasullah mendengar pernyataan itu.

Hikmah

Dalam cerita tersebut Bahwa Allah telah memberi ketenteraman bagi orang yang ketakutan, memberi pakaian orang yang telanjang, dan membebaskan seorang budak belian”.

Akhirnya, rahmat dan kasih sayang, bantuan dan pertolongan kepada masyarakat bawah akan mendatangkan kesejahteraan dan kemajuan. Allah berfirman dalam sebuah hadits Qudsi. “Allah akan menolong hamba-Nya, selama ia menolong saudaranya.”

Kisah 2 : Kematian Seorang Harun Ar Rasyid

Cerita ini terjadi pada Khalifah Harun Ar Rasyid. Pada suatu hari Harun Ar Rasyid pergi berburu. Di tengah perjalanannya ia bertemu dengan seseorang yang bernama Buhlul.

Harun berkata, “Berilah aku nasehat, wahai Buhlul!”.

Lalu lelaki itu berkata, “Wakahi Amirul Mukminin, dimanakah bapak dan kakek-kakekmu, dari sejak Rasulullah hingga bapakmu?”.

Harun menjawab, “Semuanya telah mati!”.

“Dimana istana mereka?” tanya Buhlul.

“Itu istana mereka”, jawab Harun.

“Lalu dimana kuburan mereka?”.

“Ini, disini kuburan mereka” jawab Harun.

Buhlul pun berkata, “Disitu istana mereka, dan disini kuburan mereka. Bukankah istana itu tidak sedikit pun menberi manfaat bagi mereka sekarang?”.

“Kamu benar, tambahkanlah nasehatmu wahai Buhlul!” kata Harun.

“Wahai Amirul Mukminin, engkau diberi kekuasaan atas perbendaharaan Kisra dan diberi umur panjang. Lalu apa yang bisa kau perbuat?, bukankah kuburan adalah terminal akhir bagi setiap manusia yang hidup, kemudian engkau akan disidang tentang berbagai masalah?”.

“Tentu”, jawabnya.

Setelah itu Harun Ar Rasyid pulang dan jatuh sakit. Setelah beberapa hari menderita sakit sampailah ajal menjemputnya. Pada detik-detik terakhir kehidupannya, ia berteriak kepada penasehatnya.

“Kumpulkanlah semua tentaraku”. Maka datanglah mereka kepada Harun, lengkap dengan pedang dan perisainya. Begitu banyaknya mereka, sehingga tak ada yang tahu jumlahnya selain Allah SWT, seluruhnya berada di bawah komando Harun Ar Rasyid.

Melihat mereka, Harun menangis dan berkata, “Wahai Dzat yang tidak pernah kehilangan kekuasaan, kasihanilah hamba-Mu yang telah kehilangan kekuasaan ini”. Tangisan itu tak berhenti hingga ajal mencabut nyawanya.

Hikmah

Dengan kisah diatas menyadarkan kepada kita semua, bahwa kematian adalah sebuah kepastian bagi setiap manusia. Tak ada yang bisa menolak, bahkan raja yang punya banyak bala tentara sekalipun. Sang Khalifah yang memiliki kekuasaan yang sangat luas itu, ternyata akhirnya tinggal di liang lahat yang sempit.

Tak ada anak, tak ada istri, tak ada kawan, tak ada kasur, minuman dan makanan. Harta dan kekuasannya tak lagi berguna, kecuali amal sholeh yang telah dikerjakan di dunia.

Kisah 3: Mimpi Hasan Al Bashri

Suatu ketika, ada sebuah ketegangan antara Hasan Al Bashri dan Ibnu Sirin. Keduanya tak mau saling menyapa.

Bahkan setiap kali mendengar orang lain menyebut nama Ibnu Sirin, ia merasa tak suka,

“Jangan sebut nama orang yang berjalan dengan lagak sombong itu di hadapanku”, ujarnya.

Suatu malam Hasan Al Bashri bermimpi sesuatu yang aneh, seolah-olah ia sedang bertelanjang di kandang binatang sambil membuat sebatang tongkat.

Pagi harinya ia terbangun dan merasa bingung dengan mimpinya itu. Tiba-tiba ia ingat bahwa Ibnu Sirin yang kurang ia sukai, merupakan orang yang pandai menafsirkan mimpi.

Ia merasa malu dan gengsi jika bertemu sendiri, akhirnya ia meminta tolong seorang temannya untuk menemui Ibnu Sirin.

“Temui Ibnu Sirin, dan ceritakan mimpiku ini seakan-akan kamu sendiri yang mengalami”, pesannya.

Akhirnya temannya itu segera menemui Ibnu Sirin. Begitu selesai menceritakan isi mimpi tersebut, Ibnu Sirin langsung berkata, “Bilang pada orang yang mengalami mimpi ini, jangan menanyakannya kepada orang yang berjalan dengan lagak sombong”.

Mendengar laporan yang disampaikan temannya itu, Hasan Al Bashri merasa kesal dan bingung. Setelah berfikir sejenak, akhirnya ia memutuskan untuk bertemu langsung dengan Ibnu Sirin.

“Antarkan aku ke sana,” katanya. Begitu melihat kedatangan Hasan Al Bashri, ia menyambutnya dengan baik. Setelah saling mengucap salam dan berjabat tangan.

“Sudahlah, kita langsung saja!, Aku bingung memikirkan mimipiku semalam,” kata Hasan Al Bashri. Lalu, ia menjelaskan sekilas tentang mimpinya.

“Jangan Bingung,” kata Ibnu Sirin. “Telanjang dalam mimpimu itu adalah ketelanjangan dunia. Artinya anda sama sekali tidak bergantung pada-Nya karena anda memang zuhud. Adapun kandang binatang adalah lambang dunia yang fana itu sendiri. Sedangkan sebatang tongkat yang anda buat itu adalah lambang hikmah yang anda katakan, dan mendatangkan manfaat bagi banyak orang.”

Sesaat, Hasan Al Bashri terkesima. Ia kagum pada kehebatan Ibnu Sirin sebagai ahli penafsir mimpi.

Hikmah

Hikmah yang bisa kita ambil dari kisah tersebut adalah Terkadang kita akan mengalami kecekcokan dalam hidup kita.

Tapi dengan hal itu, jangan sampai kita berlaru-larut dalam kesia-siaan yang akhirnya malah membuat kita terhambat dan terhalang dengan pintu kebaikan yang berada di depan mata kita.

Kisah 4: Berlomba-lomba dalam kebaikan

Kisah ini terjadi dikalangan para sahabat Rasulullah SAW yaitu Umar bin Khattab dan Abu Bakar RA dalam upaya memperbanyak sedekah.

Terjadi pada Perang Tabuk, dimana pada waktu itu Rasulullah SAW menyeru kepada para sahabatnya untuk memberikan sedekah sesuai dengan kemampuannya masing-masing.

Umar pada saat itu memiliki harta untuk disedekahkan. Tapi dalam hatinya ia merenung, “Setiap saat Abu Bakar membelanjakan hartanya lebih banyak dari apa yang telah saya sedekahkan di jalan Allah.”

Umar berharap dengan karunia Allah, semoga dengan bersedekah lebih dari Abu Bakar kali ini. Saat itu Umar bin Khattab mempunyai dua harta kekayaan untuk dibelanjakan di jalan Allah SWT.

Kemudian ia pulang ke rumahnya untuk membawa setengah harta kekayaannya untuk disedekahkan. Sambil membayangkan bahwa pada hari ini ia dapat bersedekah melebihi Abu Bakar.

Lantas Umar membawa harta itu kepada Rasulullah, Kemudian Rasulullah bertanya.

“Apa ada yang kamu tinggalkan untuk keluargamu, wahai Umar?”

“Ya, ada yang saya tinggalkan, wahai Rasulullah.” jawab Umar.

“Seberapa banyak yang telah kamu tinggalkan untuk keluargamu?” tanya Rasulullah.

“Saya telah tinggalkan setengahnya,” jawab Umar.

Tidak berapa lama kemudian, Abu Bakar datang dengan membawa seluruh hartanya kepada Rasulullah.

“Apa yang kamu tinggalkan untuk keluargamu, wahai Abu Bakar?” tanya Rasulullah.

“Saya tinggalkan Allah dan Rasul-Nya kepada mereka (dengan keberkahan nama Allah SWT dan Rasul-Nya serta keridhaan-Nya),” jawab Abu Bakar tegas.

Mendengar hal itu, Umar bin Khattab berkata, “Sejak saat itulah saya mengetahui bahwa sekali-kali saya tidak akan dapat melebihi Abu Bakar.”

Hikmah

hikmah yang bisa kita ambil dari ceritatersebut adalah, bahwa berlomba-lomba dan berusaha melebihi orang lain dalam kebaikan adalah perbuatan baik dan merupakan perbuatan yang sangat disukai Allah dan Rasul-Nya, seperti dalam firma Allah SWT:

“…Maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah lh kamu kembali semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu.” (QS. Al-Maidah : 48)

Kisah 5: Pemuda dan Sepotong Kayu

Pada suatu hari, ada seorang pemuda yang sangat membutuhkan uang untuk keperluannya. Ia pun meminjam sejumlah uang kepada seseorang yang dikenalnya.

“Datangkanlah para saksi yang akan mempersaksikan kita,” ujar si peminjam uang.

“Cukuplah Allah sebagai penolong,” kata si pemuda.

“Kalau begitu, datangkanlah seorang penjamin,” pintanya.

“Cukuplah Allah sebagai penjamin,” ujar si pemuda tegas.

Akan tetapi, baginya menyebut asma Allah dalam ikatan perjanjian maka akan menjadi sangat kuat. Jika dilanggar, ia amat takut Allah murka.

“Kau benar,” katanya dengan penuh kepercayaan. ia pun meminjamkan seribu dinar dan menyepakati masa jatuh tempo pengembalian uang tersebut.

Pergilah si pemuda mengarungi samudera untuk memenuhi kebutuhannya.

Nah, saat jatuh masa pengembalian, ia pun bermaksud kembali ke pulau si peminjam tersebut, namun tak ada satu pun perahu di situ.

Cemaslah hati si pemuda, ia tak mau melanggar kesepakatan dan janji utangnya.

Maka ia pun berpikir sejenak, ia pun mengambil sepotong kayu kemudian melubanginya. Uang seribu dinar itu dimasukkan pada lubang kayu tersebut tak lupa sepucuk surat juga dimasukkan pada lubang kayu tersebut.

Setelah itu menghanyutkan ke laut seraya berdo’a, “Ya Allah, sungguh Engkau tahu bahwa aku meminjam uang seribu dinar kepada seseorang yang ku kenal, namun kukatakan padanya, ‘Cukup Allah sebagai saksi’. Ia pun ridha kepada-Mu, sunggu aku hanya berharap kepada-Mu saja,”

Namun, meski telah memasrahkan uang dalam kayu itu. Ia terus berusaha mencari perahu untuk pergi ke tempat si peminjam uang.

Tak jauh dari sana, si piutang terus menunggu kedatangan si pemuda tersebut. Cukup lama menunggu, ia pun bosan.

Namun, tiba-tiba ia melihat sebongkah kayu yang hanyut, ia pun mengambilnya untuk digunakan sebagai kayu bakar di rumahnya.

Saat membelah kayu tersebut, ia terkejut mendapati uang seribu dinar dan sepucuk surat. Membaca surat tersebut, ia pun tersenyum riang.

Keesokan harinya, si pemuda muncul dengan rasa cemas dan bersalah. Turun dari perahu, ia bergegas menuju rumah si peminjam uang.

Setelah bertemu dan berbincang-bincang, serta menjelaskan maksud kedatangannya dan uzurnya si pemuda tersebut.

“Sungguh Allah telah menyampaikan uang yang kau kirim di dalam kayu tersebut. Maka, pergilah dan ambillah kembali seribu dinar yang kau bawa ini,” ujarnya.

Hikmah

Allah berfirman, “…Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, mak bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya.”

Dalam kisah tersebut, si pemuda menunjukkan sikap memenuhi janji dengan ketekadan yang luar biasa.

Ia hanya menyerahkan urusannya kepada Allah semata, ia bertawakal  kepada-Nya agar suratnya sampai ke tujuan dengan tekad bulat untuk memenuhi janji mengganti hutangnya.

Kisah 6: Kakek dan Pencuri Pepaya

Cerita ini adalah tentang seorang kakek yang sederhana, hidup sebagai orang kampung yang bersahaja.

Suatu sore hari, ia mendapati pohon pepaya di depan rumahnya telah berbuah. Walaupun hanya 2 buah, namun telah menguning dan siap  dipanen.

Ia berencana untuk memetik buah tersebut di keesokan harinya. Namun, tatkala pagi tiba, ia menemukan buah pepayanya hilang dicuri orang.

Kakek itu sangat bersedih, sehingga istrinya merasa heran.

“Hanya karena sebuah pepaya saja engkau demikian murungnya,” ujar sang istri.

“Bukan itu yang aku sedihkan, aku kepikiran betapa sulitnya orang itu mengambil pepaya kita. Ia harus sembunyi-sembunyi di tengah malam agar tidak ketahuan orang. Belum lagi ia memanjatnya dengan susah payah untuk bisa memteiknya,” jawab sang kakek.

Lanjut sang kakek, “saya akan pinjam tangga dan saya taruh di bawah pohon pepaya kita, mudah-mudahan ia datang kembali malam ini dan tidak lagi kesulitan untuk mengambil yang satunya.”

Namun, keesokan paginya ia mendapati buah pepayanya masih tetap sebuah dan juga beserta tangganya tanpa bergeser sedikitpun.

Ia tetap bersabar, dan berharap pencuri itu akan muncul lagi di malam ini. Namun di pagi berikutnya, tetap saja buah pepaya itu masih di berada di tempatnya.

Di sore harinya, sang kakek kedatangan tamu yang membawa dua buah pepaya di tangannya. Ia belum pernah mengenal si tamu tersebut.

Singkat cerita setelah berbincang lama, saat hendak berpamitan tamu itu dengan amat menyesal mengaku bahwa ialah yang telah mencuri pepaya kakek tersebut.

“Sebenarnya” kata sang tamu, “di malam berikutnya saya ingin mencuri buah pepaya yang tersisa tersebut, namun saya menemukan ada tangga di sana, saya tersadar dan sejak saat itu saya bertekad untuk tidak mencuri lagi.

Untuk itu, saya kembalikan pepaya anda serta menebus kesalahan saya, saya hadiahkan pepaya yang baru saya beli di pasar untuk anda.”

Hikmah

Hikmah yang bisa kita ambil adalah tentang keikhlasan, kesabaran, kebajikan dan cara pandang positif terhadap kehidupan.

Mampukah kita tetap bersikap positif saat kita kehilangan sesuatu yang kita cintai dengan ikhlas mencari sisi baiknya serta melupakan sakitnya suatu “musibah”?

“sesungguhnya manusia itu sangat ingkar, tidak berterima kasih kepada Tuhannya. dan sesungguhnya manusia itu menyaksikan (sendiri) keingkarannya, dan sesungguhnya dia sangat bakhil karena cintanya kepada harta” (QS. Al Adiyat: 6-8)

Penutup

Nah, itulah yang bisa saya sampaikan dalam artikel kali ini. Mudah-mudahan bisa bermanfaat bagi kita semua dan menjadikan hidup kita lebih baik dikemudian hari.

Baca juga: Kumpulan artikel tentang kehidupan

Silahkan share dan beri komentar sekiranya bermanfaat, Akhirul Kalam

Wassalamualaikum, wr, wb.


0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *