Hai sahabat kutipanpena, di episode kali ini saya akan menceritakan pengalaman pribadi saya sebelum di Pondok Pesantren.

Tentang Pondok Pesantren

ponpes rijalul quran

@RijalulQur’an

Tempat yang teduh penuh drama, sakral dan keharmonisan yang dapat mengeratkan ukhuwah islamiyah hingga akhir zaman.

Kegiatan kegamaan yang terus ditekankan percaya diri yang terus diajarkan. Membuat banyak orang tua percaya mempercayakan anak-anak mereka ke pendidikan pesantren.

Meski baru saja merasakannya namun seperti sudah ada hasil yang signifikan. Pendidikan tentang dunia telah para Guru ajarkan, tak lupa mereka para ustadz-ustadz mengulurkan ayat-ayat, dalil-dalil tentang ilmu agama yang menguatkan iman kita serta menetramkan hati dan pikiran.

Bukan hanya ilmu saja yang saya dapatkan, pengalaman hidup pun juga kutemui. Dari ragam budaya, ragam logat berbahasa dan berbagai macam ragam madzhab yang berbeda.

Serta dari latar belakang keluarga yang bervariasi. Dari sinilah saya mulai mengenal betapa besarnya toleransi kepada sesama.

Begitu juga dengan wawasan, banyak cerita dan hikmah dari wawasan yang digagaskan oleh rekan teman antar satu dengan yang lain. Yang nantinya akan menjadi ilmu baru di kehidupan mendatang.

Intinya dengan berada di pesantren pemikiran saya lebih terbuka dengan hadirnya teman-teman yang baru. Dan hal itu menyadarkan bahwa masih ada ratusan atau bahkan jutaan tipa manusia yang belum saya kenali.

Keseharian saya dan santri lainnya telah terjadwal dengan sangat teratur. Mulai bangun tidur sampai tidur lagi.

Hampir semua aktivitas di pesantren dari pagi sampai malam. Itu semua bernilai sangat produktif dan bukan sia-sia insyaallah. Sikap ta’dzim juga telah beliau-beliau ajarkan.

Suka dan Duka Kehidupan di Pesantren

suka duka di pondok pesantren

Google.com

Bagi teman-teman yang pernah merasakan kehidupan di pondok pesantren. Tentunya terkadang merasakan indahnya hidup di pesantren.

Ada suka dan ada duka, hidup selalu berjama’ah dengan teman-teman. Merasakan indahnya kebersamaan, makan bersama, tidur bareng, sholat berjama’ah, belajar bareng dan semua kegiatan yang sudah ditetapkan oleh pesantren.

Aku yang tak biasa membaca al-qu’an apalagi menghafalkannya, aku yang tak biasa mencuci baju sendiri, membersihkan kamar mandi (piket) dan sebagainya, merasakan ini benar-benar sebuah paksaan.

Tetapi setelah 1 tahun aku tinggal di pesantren aku baru bisa merasakan betapa nikmatnya hidup di pesantren. Seakan selalu mengingat akhirat dan berlomba-lomba dalam kebaikan insyaallah.

Ketika pagi menjelang jam 03.00 kegiatan di pesantren sudah mulai muncul aktivitasnya (agaknya tidak semua sih pesantren yang aktivitasnya di jam-jam segitu).

Mulai dari yang sholat tahajjud, ada yang sudah mandi, ada yang tadarus menghafal al-qur’an, belajar dan berbagai macam aktivitas yang layaknya dilakukan oleh seorang santri.

Ketika shubuh menjelang, bersama-sama kita pergi ke masjid. sholat shubuh berjama’ah, kemudian dilanjutkan dengan hafalan dan kajian, lantas piket membersihkan pesantren agar nampak bersih dan indah.

Selepas itu mandi dan kegiatan lainnya.Ketika sore menjelang, kembali kita menyibukkan diri untuk tetap mengingat Allah, sholat maghrib, tahsin, kajian dan belajar

Akan tetapi, terasa lebih indah apabila semua itu dilaksanakan semata-mata untuk mencari ridho Allah. Seberapapun amal kita apabila dilakukan dengan niat “tabarruj” maka tidak ada berkahnya. Bukan pahala yang didapat.

Satu hal yang membuatku menjadi bertahan di pesantren adalah sikap zuhud dan kekeluargaannya yang bikin aku merasa betah di pondok. Sewaktu pertama kali aku tinggal di pesantren(terutama di pondok pesantren yang fokus pada al-qur’an) benar-benar deh…. Serasa berada di “dunia lain”.

Yah itulah gambaran singkat di pondok pesantren kita harus bisa membedakan yang baik dan benar. Karena itu adalah sebuah proses bagi kita sebagai manusia dalam menentukan masa depan kita 🙂

Awal Sebelum Masuk Pesantren dan Wisuda Perpisahan SD

wisuda sd plus alishlah

facebook.com

OK di kesempatan kali saya akan menceritakan pengalaman saya sebelum masuk ke pesantren, oh ya rencananya saya akan masuk ke Pesantren Tahfidz “Rijalul Qur’an” Semarang setelah Wisuda SD nanti.

Nah begini ceritanya, sebelum acara wisuda perpisahan kelas 6 SD abiku dapat kabar dari panitia penerimaan calon santri melalui SMS dan memberitahukan kepadaku bahwa ada syarat yang harus dilakukan untuk mengikuti tes seleksi calon santri baru.

Yaitu setiap calon santri sebelum di laksanakan tes seleksi harus menghafalkan surah Al-Anbiya’ 1 halaman sebanyak 10 ayat.

pemberitahuan itu sempat membuatku “shock” gk kebayang gimana caranya menghafalkannya, padahal sebelumnya aku gak pernah sedikitpun menghafal al-qur’an, ya pernah sih menghafal juz 30 di waktu SD tapi gak semua hafal di juz 30 mungkin cuma beberapa saja. Hiiks..

Pagi-pagi sekali aku bersiap-siap untuk ikut acara wisuda perpisahan kelas 6 dibantu oleh orang tuaku, kemudian berangkat dari rumah ke tempat acara dengan sepeda motor berbonceng 5 orang (seperti waktu liburan ke Banyuwangi itu hehe).

Nah setelah sampai di tempat acara wisuda kemudian mengikuti serangkaian acara wisuda dan sampailah pada sesi akhir yaitu bersalam-salam kepada seluruh dewan guru dan tak lupa juga kepada teman SD kelas 6 seperjuangan, serta foto bersama guru dan foto bebas.

Pada saat sesi foto bersama aku baru sadar bahwa satu temanku yang cowok mendadak hilang pada waktu sesi foto bebas, ya mungkin temanku itu punya urusan yang mendadak setelah acara wisuda atau gimana lah gak tau aku. ya sudah lah.

Berangkat ke Pesantren

perjalanan ke ponpes

Pexels.com

Acara wisuda perpisahan kelas 6 usai sudah dan saatnya untuk kembali ke rumah bersama keluargaku. Dan pada saat itu juga saatnya mempersiapkan segala keperluan untuk mengikuti tes seleksi calon santri pesantren rijalul qur’an di Semarang.

Sebelum itu abiku sudah menyewa mobil terlebih dahulu karena perjalanan dari Bondowoso ke Semarang itu membutuhkan waktu yang lama lho, yah sekitar 15 jam kalau menggunakan mobil tanpa melewati jalan tol.

Kembali ke awal, nah setelah mempersiapkan segala kebutuhan apa saja yang harus di bawa ketika di pesantren dan sorenya kami sekeluarga langsung berangkat saat itu juga.

Untuk syarat tes seleksinya itu kan disuruh mengahafal surah Al-Anbiya’ 10 ayat, waktu itu juga aku langsung menghafal surah tersebut yah menghafalnya di dalam mobil itu dah dari awal perjalanan sampai nanti ketika sampai di pesantren.

Dalam perjalanan selama itu tak henti-hentinya mulut ini melantunkan ayat suci al-qur’an menghafal surah Al-Anbiya’ dari ayat pertama di baca sampai berkali-kali sampai hafal, kemudian pindah ke ayat selanjutnya di baca berulang kali sampai bener-bener hafal begitu seterusnya di baca di hafal di ulang sampai bener-bener lancar.

Tapi nyatanya aku belum benar-benar mampu untuk menghafal 10 ayat tersebut ya mungkin pikiran ini masih belum bisa untuk fokus karna banyak kendala selama perjalanan

Tapi setidaknya aku masih bisa menghafal 5 ayat setengah dari halaman tersebut itu dan itu sudah bisa membuat hatiku senang karna bisa menghafal 5 ayat dalam satu malam hehe.

Setelah mengalami perjalanan yang cukup jauh akhirnya kami sekeluarga tiba lokasi tujuan yakni di pesantren tahfidz rijalul qur’an sekitar jam 07.00 pagi, nah yang pertama kali saya lihat adalah lingkungannya ternyata tempat pondoknya berada di dalam kawasan MTS Al-Islam Gunungpati.

Awalnya saya heran kenapa ya pondoknya ada di dalam sekolah MTS ya mungkin gak tau lah aku hehe.. Dan nanti kedepannya akhirnya aku mengerti bagaimana sejarah cikal bakal pondok tersebut.


0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *