Banyak pengalaman yang saya dapatkan dari sekolah. Namun kali ini saya akan bercerita tentang dua mata pelajaran yang membuat otak acak-acakan bin berantakan

Pengalaman Belajar Dua Bahasa yang Bikin Pusing

 belajar dua bahasa yang bikin pusing

pexels.com

Bahasa Arab bagiku adalah bahasa yang paling unik, aneh bagiku dan itu dapat membuat IQ seseorang bertambah. Sebegitu rumitnya pelajaran ini membuatku selalu pusing bila Guru mengajarkan di kelas. Mulai dari kelas 3 SD saya telah diajarkan mapel tersebut. Karena SD Islam maka di sana ada mapel Bahasa arab.

Lain dengan bahasa madura dan Jawa yang memang bahasa daerah di tempatku

Mulai dari pelafalannya yang membuat lidah dan bibir ini harus bergerak secara teratur. Bila pelafalan huruf telah benar, belum tentu saya paham dan tau arti kata tersebut. Memang Bahasa arab tak semudah ilmu pasti seperti matematika, IPA, dan sebagainya.

Kemudian setelah beranjak ke level kelas yang lebih tinggi yakni kelas 5 SD, Guru pu mulai mengajarkan tata bahasa Arab mengenai nahwu dan shorof  yang lebih memutar otak saya. Beda antara satuan dan jamak, perbedaan harokat akhir, perubahan subyek obyek dan masih banyak lagi.

Ketika ujian pun demikian, saya sering mengacak-acak jawaban dengan cara menunjukkan pensil ke kertas ujian yang telah di beri tanda ABCD guna mengacak jawaban, lotre. 

Pokoknya gak tau maksudnya itu karena tulisannya arab semua. sungguh memalukan. Padahal perlu bisa bahasa arab untuk bisa mengartikan isi al-qur’an.

Begitu pula dengan pelajaran Bahasa Inggris. Hampir setiap pembelajaran yang di berikan oleh Guru tersebut membuatku pusing tujuh keliling dan susah untuk melafalkan kata dan kalimat karena lidah ini kelu dan tidak fasih untuk mengucapkan bahasa inggris.

Dibalik pusingnya dan ketidakfahamnya diriku selama SD waktu itu. Kini telah menghantarkan ku dapat berbicara dengan bahasa Arab dan bahasa Inggris

Meski mulut ini masih dalam keadaan terbata-bata. Dan yang takkan pernah saya sesali setelah dewasa ini, saya dapat merasakan susah payahnya ketika belajar kedua bahasa tersebut.

Banyak pengalaman dan hal-hal baru setelah saya faham, mengerti dan mempraktikannya di dewasa ini. Dengan segala hormat saya ucapkan terima kasih kepada Guru yang telah mengajarkan ku tentang arti pantang menyerah dan arti sebuah pengalaman.

Karena dengan pengalaman akan ada hikmah tersendiri untuk masa depan kita kelak.

Tentang Guru

guru terbaik

pixabay.com

Semua orang pasti memiliki orang tua sehinnga kita bisa terlahir di dunia ini. Tapi ada istilah orang tua kedua yang ada di sekolah.

Ya, itu merupakan sebutan untuk guru-guru yang ada di sekolah kita. Karena saat di sekolah merekalah yang telah membimbing, menjaga, mengur kita selama kita bersekolah.

Saat kita di sekolah, ada banyak guru yang memberikan materi yang diajarkan kepada kita, dan juga setiap masing-masing guru pasti mempunyai kepribadiannya masing-masing.

Kenapa kepribadian? Itu karena kita pasti sering atau pernah menemukan guru yang sangat baik dan sabar, guru yang tegas, guru yang ditakuti murid karena sering marah, guru yang lucu sering membuat kita tertawa, dan masih banyak lagi.

Ah, selain itu ada juga guru-guru yang cantik dan ganteng serta masih muda yang menjadi bahasan modusan murid-murid hehe..

Terlepas dari itu semua, guru merupakan kunci dimana kita bisa sukses nantinya. Para pahlawan tanpa jasa. Merekalah yang selalu ada dalam suka dan duka saat kita menempuh pendidikan di sekolah.

Mereka yang juga akan bangga jika kita meraih prestasi, mereka juga yang akan ikut bersedih jika kita mengalami kegagalan, namun mereka juga membangkitkan kita dari kegagalan tersebut. Guru segala hormat kami untukmu.

Liburan Hari Raya Idul Fitri

 hari raya idul fitri

Google.com

Berkunjung ke rumah saudara dan kerabat terutama berkunjung ke rumah Nenek dan Kakek merupakan hal yang afdhol bagi masyarakat Indonesia.

Tentunya ketika saatnya liburan sekolah di hari lebaran tepatnya di Hari Raya Idul Fitri. Apalagi untuk bersilaturrahmi syawalan halal bihalal telah menjadi adat tahunan di negara tercinta ini.

Bicara soal Hari Raya Idul Fitri memang selalu menyenangkan, kalian pasti sudah tahu apa alasannya. Yup, apalagi kalau bukan liburan panjang.

Biasanya setelah mendapatkan jatah liburan panjang apalagi momennya setelah Hari Raya idul Fitri itu membuat kita jadi malas untuk kembali ke sekolah.

Tapi kita sebagai pelajar yang baik tentu tidak boleh bersikap seperti itu, kita harus tetap semangat untuk terus belajar demi cita-cita kita di masa depan.

Oke langsung saja, saya akan menceritakan sedikit pengalaman pribadi masa kecil saya ketika liburan lebaran Idul Fitri.

Merayakan Idul Fitri bersama keluarga tentu jadi keinginan setiap muslim di Indonesia. Oleh sebab itu, kita semua mengenal satu tradisi tahunan yang namanya mudik. Tiap muslim yang sedang merantau serentak mau pulang ke kampung halaman. Ingin berkumpul dengan keluarga dan merayakan lebaran bersama keluarga.

Ketika saya berusia kecil sekitar 7-12 tahun, acara ini merupakan perkara yang penting dalam hidup saya. Angpao telah melambai-lambai di benak kita. Apalagi hadiah dari oarang tua kita sendiri berkat usaha dan kerja keras kita dalam bulan ramadhan.

Biasanya orang-orang memberi angpao atau uang THR kepada anak-anak tanpa ada alasan yang mendasar. Namun bagi keluarga kami, diajarkan untuk memberi angpao sesuai dengan prestasi anak tersebut. Meski hanya berselisih jumlah sedikit dengan mereka yang kurang prestasi dalam ibadah ramadhan.

Keluarga saya menganggap itu sebuah bentuk pendidikan anak agar selalu terpacu untuk memberi apapun yang dia bia lakukan di bulan suci ramadhan guna meraih kebaikan di bulan selanjutnya. Termasuk THR ini, sebuah prestasi harus dihargai dalam bentuk apapun agar anak selalu memiliki misi dalam setiap langkahnya.

Liburan ke Rumah Kakek Nenek

perjalanan ke rumah nenek

pexels.com

Saya dan sekeluarga biasanya silaturrahmi ke tempat kakek nenek dan saudara-saudara abi dahulu pada hari H+1 lebaran yakni pada tanggal 1 Syawal di Banyuwangi dan ke tempat kakek nenek dan saudara-saudara umiku di Tuban pada hari H+5 lebaran yakni pada tanggal 5 Syawal.

Oke langsung saja kami dan sekeluarga akan berlibur ke Banyuwangi tepatnya di rumah kakek nenek abi saya, berjalan dari rumah dengan abi umi dan dua adik kecil kami sekeluarga mengendarai sepeda motor yang dikendarai abi saya berbonceng 5 orang dalam satu kendaraan. Adik saya yang pertama duduk di depan dan umi, saya dan adikku yang kedua duduk di belakang bertiga.

Gak kebayang kan sobat gimana rasanya mengendarai sepeda motor berbonceng 5 orang hehe, dan juga jarak perjalanan dari Bondowoso ke Banyuwangi memakan waktu sekitar 5 jam hiiks.

Meskipun berdempetan dalam kendaraan roda dua, hati riang selalu menyertai perjalanan kami. Dan tak lupa do’a keselamatan selalu kami ucapkan guna memita kepada Allah atas perlindungan untuk kami sekeluarga hingga sampai tujuan.


0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *