Setidaknya gambaran yang paling pas untuk mengilustrasikan bagaimana suasana hatiku ketika pertama kali menginjakkan kaki di sebuah tempat yang kemudian hari aku kenal dengan pondok pesantren.

Maka tidak heran jika sebagian orang menempelkan kalimat “penjara suci” untuk sebutan lembaga pendidikan pesantren yang di desain berkamar-kamar hampir mirip sel tahanan ini.

Lebih-lebih bagi santri baru seperti saya ini yang sebelumnya belum pernah merasakan tinggal jauh dari orang tua.

Tes Seleksi di Pesantren Rijalul Qur’an

ponpes rijalul qur'an

@Rijalulqur’an

Sebelumnya dipikiran saya tidak keinginan yang namanya mondok itu dan yang dipikiran saya setelah lulus SD hanya ingin sekolah formal SMP biasa seperti halnya di luar sana.

Ya emang waktu aku masih kecil sih belum tau apa-apa pikirannya masih kekanak-kanakan gitu belum tau tujuan hidup ini mau dikemanain.

Qodrullah, akhirnya Allah telah memberikan jalan yang terbaik bagi saya dan abi saya menyarankan untuk mondok tahfidz di rijalul qur’an Semarang ya akhirnya aku manut aja karna ini juga untuk masa depan saya pribadi.

Langsung saja pada intinya, Saya akan lanjutkkan pada cerita sebelumnya. cekidot..

Pada waktu itu aku sekeluarga sudah sampai pada tujuan dengan selamat di lokasi pesantren Rijalul Qur’an setelah itu aku dan abiku menuju ke tempat panitia penerimaan calon santri

kemudian setelah menerima teknis tes seleksi yang disampaikan oleh panitia, segera saat itu juga menuju ke musholla (karna gak ada masjid) untuk melakukan tes seleksi.

Untuk tahapan tes seleksinya itu ada 4 macam:

  1.  setoran hafalan yang sudah di hafal sebelumnya yaitu surah Al-Anbiya’.
  2.  tahsin al-qur’an yakni membenarkan bacaannya.
  3.  menghafal dengan mendengarkan murottal.
  4.  wawancara calon santri dan orang tua.

Ok langsung saja saya akan membahasnya satu per satu.

Tes seleksi tahap pertama dan Kedua

seleksi tahap pertama dan kedua

pixabay.com

Tes yang pertama bertempat di musholla, sambil nunggu giliran untuk setoran aku mengulang-ulang hafalanku di surah Al-Anbiya’ dari ayat 1 sampai 7 ya emang yang aku hafal cuma segitu gak ada waktu lagi untuk mengahafal ayat selanjutnya.

Nah setelah sampai pada giliranku aku maju kedepan untuk setoran (pada saat itu jantung ini berdegup sangat kencang tak tau kenapa) setelah maju aku bertanya dulu pada ustadz.

“maap ustadz saya cuma hafal sampai ayat 7 gak papa kan ustadz?” Kataku dengan nada gemetar.

“yah gak papa sudah ayo  langsung mulai,” perintah ustadz dengan santainya.

akhirnya hati ini tenang setelah apa yang aku sampaikan kepada ustadz. Mulailah aku setoran dari ayat 1 sampai 7 dan alhamdulillah cukup lancar lah meskipun belum bisa di bilang lancar hehe.

Kemudian lanjut pada tahap tes ke dua yaitu tahsin al-qur’an, ya di tes kedua ini biasa-biasa bagi saya gak begitu sulit karna ya di SD dulu sering belajar tahsin al-qur’an, ilmu tajwid dan ghorib serta makharijul hurufnya juga dipelajari

Tes seleksi tahap ketiga

Tes seleksi tahap ketiga

pexels.com

Kemudian lanjut ke tahap seleksi yang ketiga yaitu menghafal dengan mendengar bertempat di ruang kelas MTS yang gak terpakai.

Setelah saya dan calon santri lainnya selasai di tahap pertama saatnya lanjut ke tahap kedua.

Ustadz memutar murottal surah As-Shaffat dari ayat 1 sampai 10 (kalau gak salah)  kemudian santri mendengarkan dengan seksama, selama 15 menit terus di putar ulang sampai beberapa kali

setelah itu setiap calon santri di cek satu-satu oleh ustadz, nah setelah sampai pada giliranku kemudian ustadz bertanya.

“ya kemudian lanjut kamu, siapa namamu?” tanya ustadz.

“Nama saya Istiqlal ustadz”, jawabku.

“Ya coba kamu baca apa yang sudah di dengarkan tadi!” perintahnya.

Kemudian aku baca deh apa yang aku hafal, kalau gak salah waktu itu aku cuma hafal sampai ayat 5 dari 10 ayat yang tadi di dengarkan lewat murottal.

Tes Seleksi Tahap Keempat

Tes seleksi tahap keempat

pexels.com

Setelah tes seleksi tahap keempat sudah selesai kemudian lanjut tes yang keempat dan juga yang terakhir yaitu wawancara calon santri dan orang tua.

Bertempat di musholla, aku dan temen-temen calon satri baru setelah selesai tes hafalan dengan mendengar barulah menuju ke musholla untuk tes wawancara.

Sembari menunggu panggilan untuk wawancara aku berfikir sejenak (entah apa yang aku pikirkan) hehe.

Sampailah namaku dipanggil oleh ustadz kemudian aku langsung maju setelah itu aku ditanyai beberapa pertanyaan oleh ustadz.

“Namanya siapa?” tanya ustadz

“Nama saya Ahmad Mujahidul Istiqlal ustadz” jawabku.

“Ok langsung saja, apa ananda Istiqlal selalu sholat 5 waktu di masjid?” tanyanya

“Alhamdulillah ustadz saya sering sholat di masjid tapi kadang-kadang juga sholat di rumah” jawabku.

“Alhamdulillah, kemudian apakah ananda istiqlal selalu sholat tahajjud dan dhuha?” tanya ustadz lagi.

“Ya kalau sholat tahajjud sih jarang-jarang ustadz kalau sholat dhuha alhamdulillah sering ustadz ketika waktu di sekolah”, jawabku dengan tenang.

Seperti itulah sekilas tes wawancaraku tapi masih banyak lagi pertanyaan yang di sampaikan oleh ustadz, sekiranya tidak harus disampaikan semua petanyaan-pertanyaan di sini cukup itu aja intinya

Penentuan Hasil Tes Seleksi

penuntuan hasil tes seleksi

pexels.com

Setelah semua calon santri baru beserta orang tuanya berkumpul di musholla Sebelum pengumuman di mulai, pimpinan pondok atau biasa di sebut dengan mudir pondok menyampaikan beberapa kata demi kata hingga menjadi sebuah kalimat yang bisa membuat calon santri baru tetap tenang apapun masalah yang dihadapinya.

Sampailah pada sesi pengumuman, sebelum menunggu panggilan untuk mengambil surat pernyataan hati ini rasanya tidak tenang banyak yang aku pikirkan.

Antara gelisah dan bimbang semua rasa ini bercampur aduk jadi satu benakku.

Tibalah saatnya namaku di panggil oleh ustadz kemudian aku maju ke depan dan di persilahkan untuk mengambil surat pernyataan hasil tes seleksi tersebut.

Setelah itu aku berikan ke orangtuaku sambil berjalan keluar musholla dan membuka isi suratnya dalam keadaan hati yang entah itu apa rasanya sulit dijelaskan oleh kata-kata.

Dan alhamdulillah setelah membuka isi surat pernyataan tersebut akhirnya aku diterima dan resmi menjadi santri baru Rijalu Qur’an.

Tak lupa juga kuucapkan rasa syukur dan nikmat ini kepada Allah semata karna telah memberikan jalan yang terbaik bagi hambanya untuk menimba ilmu di pesantren Rijalul Qur’an ini.

Perasaan Pertama Kali di Tinggal Orang tua

perasaan di tinggal orang tua

pexels.com

Gak ada lagi yang bakal nyuruh bersih-bersih rumah atau dimarahin karena baru pulang ketika maghrib tiba, gak ada juga yang namanya rebutan remote TV sama adik-adikku dan sebagainya.

But, semua itu akan berubah setelah kedua orang tuaku pergi meninggalkan ku. Barulah saya menyadari bahwa sekarang saya sendirian, jauh dari orang tua, apa-apa harus nyiapin sendiri.

Entah kenapa pada saat itu dada ini mulai tersa sesak, air mata pun perlahan-lahan mulai jatuh dan membasahi pipi.

Rasanya semua memori selama di rumah mendadak berputar kembali. Kehangatan bersama keluarga tercinta, acara tivi kesukaan di rumahku, asiknya bermain bareng bersama teman-temanku seperti tergambar jelas sedang direplay dari layar proyektor dan memantul di segala penjuru.


0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *