Di dalam dunia sufi islam merupakan sebuah dunia yang cukup menarik untuk diperbincangkan.

Bagi kalian yang suka dengan puisi ataupun syair islami, tentu sudah tidak asing lagi dengan tokoh yang satu ini.

Salah satu tokohnya yang terkenal dengan mistiknya adalah Maulana Jalaluddin Rumi. Seorang ulama’ besar, sufisme dan juga seorang penyair yang cukup tersohor di zamannya.

Memang sosok jalaluddin Rumi tidak bisa lagi kita temukan pada saat ini. Meski demikian jejak kehidupannya di bumi ini masih terasa hingga sekarang.

Nah, di kesempatan kali ini saya akan menyajikan beberapa puisi ataupun sajak-sajaknya yang populer.

Sebelum itu, kita kenalan dulu siapa sih sosok tokoh sufi ini dan bagaimana sih kehidupannya pada zamannya.

Biografi Singkat Jalaluddin Rumi

Nama lengkap beliau adalah Maulana Jalaluddin Rumi Muhammad bin Hasin Al-Khattabi Al-Bakri atau bisa disebut dengan nama Rumi.

Merupakan seorang pujangga atau penyair sufi muslim dari Persia abad ke-13. Lebih dikenal sebagai seorang sufi mistik dan telah diakui sebagai seorang ahli spiritual terbesar dan penyair yang hebat sepanjang sejarah.

Jalaluddin Rumi lahir di daerah Balkh (sekarang Afganistan) pada tanggal 6 Rabiul Awwa tahun 604 H / 30 September 1207 M.

Ayahnya bernama Bahauddin Walad, adalah seorang teolog, ahli hukum dan seorang mistikus. Sementara ibunya adalah Mumina Khatun.

Karena adanya bentrokan di kerajaan saat Rumi berusia 3 tahun, maka keluarganya meninggalkan Balkh menuju Khurasan.

Sejak saat itu Bahauddin beserta keluarganya hidup berpindah-pindah dari suatu negara ke negara lain. Mereka pernah tinggal di Sinabur (daerah Iran timur laut), dari Sinabur pindah ke Baghdad, makkah, Malattya (Turki), dan terakhir menetap di Konya, Turki.

Tepatnya pada tanggal 1 Mei 1228, mereka diundang oleh Alā’ ud-Dīn Key-Qobād seorang pemimpin Anatolia. Ayah Rumi pun menerima undangan tersebut dan kemudian menetap di Konya.

Di sana, Bahauddin menajdi kepala dari sebuah sekolah agama atau madrasah. Selama perjalanan dengan keluarganya ini, Rumi selalu rajin untuk mempelajari ilmu agama, terutama agama Islam.

Hari-harinya dan lingkungannya pun sangat kental dengan hal-hal yang berbau spiritual.

Pendidikan Jalaluddin Rumi

Rumi merupakan seorang murid Sayyed Burhan ud-Din Muhaqqiq Termazi, dan termasuk salah satu murid dari ayahnya sendiri. Di bawah bimbingan dari Sayyed Termazi inilah Rumi belajar tentang ilmu Sufi.

Ia banyak mempelajari ilmu-ilmu spiritual dan rahasia tentang jiwa dan dunia ini. Setelah ayahnya wafat di tahun 1231 M, Rumi pun melanjutkan posisi sang ayah sebagai seorang guru agama terkemuka.

Dengan pengetahuannya agamanya yang luas, di samping sebagai guru ia juga menjadi imam, da’i dan ahli hukum islam di Konya, Turki. Ketika itu Rumi masih berusia 24 tahun.

Tak heran jika Konya kemudian menjadi pusat ilmu dan tempat berkumpul para ulama-ulama dari berbagai penjuru dunia.

Meski masih muda, ia berhasil membuktikan bahwa dirinya adalah seorang yang memiliki ilmu pengetahuan yang cukup luas terutama dalam ilmu agama.

Rumi juga banyak mempelajari tentang pemikiran Sufi. Selama bertahun-tahun, ia juga banyak mempelajari budaya Persia dan ajaran agama Islam, ia juga banyak mempelajari tentang syair-syair karya Fariduddin Attar dan Hakim Sanai.

Ia sungguh kagum terhadap tokoh idolanya tersebut. Bahkan ia sempat mengungkapkan kekagumannya ini ke dalam syairnya.

“Attar was the spirit, Sanai his eyes twain and in time thereafter. Came we in their train”.

Kesufian dan kepenyairan Rumi dimulai ketika ia berusia 48 tahun. Dan juga dulunya Rumi adalah seorang ulama yang memimpin madrasah dengan murid sebanyak ±4.000 orang.

Karya Jalaluddin Rumi

Dalam karya puisi Rumi yang terkenal adalah Al-Matsnawi Al-maknawi yang konon adalah sebuah revolusi terhadap ilmu Kalam yang kehilangan semangat dan kekuatannya.

Puisi Rumi juga memiliki ciri khas tersendiri dibandingkan dengan sufi penyair lainnya. Melalui puisi-puisinya Rumi menyampaikan bahwa pemahaman atas dunia hanya mungkin didapat lewat cinta, bukan semata-mata lewat kerja fisik.

Dalam puisinya juga Rumi menyampaikan bahwa Tuhan, sebagai satu-satunya tujuan, tidak ada yang menyamai dengan-Nya.

Ciri khas yang lainnya dalam karya puisinya dengan sufi penyair lain adalah, ia sering memulai puisinya dengan menggunakan kisah-kisah.

Tapi hal tersebut bukan dimaksud ia ingin menulis puisi naratif. Kisah-kisah ini digunakan sebagai alat pernyataan pikiran dan ide.

Karya-karya utamanya yang secara umum dianggap sebagai salah satu buku luar biasa di dunia yaitu.

  • Matsnawi-i-Ma’nawi (Couplets of Inner Meaning)
  • Fihi ma Fihi.
  • Maktubat
  • Diwan dan Hagiografi Manaqib al-Arifin

Semuanya itu mengandung bagian-bagian penting dari ajaran-ajarannya. Seperti penulis lain, Rumi menanamkan ajarannya dalam sebuah rangkaian yang secara efektif menjabarkan makna batinnya sebagaimana sebuah pertunjukkan atau pameran.

Salah satu pernyataan kalimat-kalimatnya yang terkenal adalah judul dari pembicaraan ringannya: “Yang ada di dalam ada di dalam” maksudnya (Engkau mengeluarkan apa yang ada di dalam untuk dirimu).

Puisi Jalaluddin Rumi

Puisi 1: Cinta

Dia adalah, orang yang tidak mempunyai ketiadaan
Saya mencintainya dan Saya mengaguminya.

Saya memilih jalannya dan Saya memalingkan muka ke jalannya
Setiap orang mempunyai kekasih, dialah kekasih saya.

Kekasih yang abadi. Dia adalah orang yang Saya cintai
Dia begitu indah, oh dia adalah yang paling sempurna.

Orang-orang yang mencintainya adalah para pecinta
Yang tidak pernah sekarat. Dia adalah dia dan.

Dia dan mereka adalah dia.Ini adalah sebuah rahasia
Jika kalian mempunyai cinta, kalian akan memahaminya.

Puisi 2: Kearifan Cinta

Cinta yang dibangkitkan
Oleh khayalan yang salah
Dan tidak pada tempatnya
Bisa saja menghantarkannya
Pada keadaan ekstasi
Namun kenikmatan itu,
Jelas tidak seperti bercinta dengan kekasih sebenarnya
Kekasih yang sedar akan hadirnnya seseorang.

Puisi 3: Cinta: Lautan Tak Bertepi

Cinta adalah lautan tak bertepi
Langit hanyalah serpihan buih belaka
Ketahuilah langit berputar karena gelombang Cinta
Andai tak ada Cinta, Dunia akan membeku

Bila bukan karena Cinta
Bagaimana sesuatu yang organik berubah menjadi tumbuhan?
Bagaimana tumbuhan akan mengorbankan diri demi memperoleh ruh (hewani)?
Bagaimana ruh (hewani) akan mengorbankan diri demi nafas (ruh) yang menghamili Maryam?

Semua itu akan menjadi beku dan kaku bagai salju
Tidak dapat terbang serta mencari padang ilalang bagai belalang
Setiap atom jatuh cinta pada Yang Maha Sempurna
Dan naik ke atas laksana tunas
Cita-cita mereka yang tak terdengar, sesungguhnya, adalah
Lagu pujian Keagungan pada Tuhan. 

Puisi 4: Perih Cinta

Perih Cinta inilah yang membuka tabir hasrat pencinta
Tiada penyakit yang dapat menyamai dukacita hati ini
Cinta adalah sebuah penyakit karena berpisah, isyarat
Dan astrolabium rahasia-rahasia Ilahi.

Apakah dari jamur langit ataupun jamur bumi
Cintalah yang membimbing kita ke Sana pada akhirnya
Akal ’kan sia-sia bahkan menggelepar ’tuk menerangkan Cinta
Bagai keledai dalam lumpur, Cinta adalah sang penerang Cinta itu sendiri.

Bukankah matahari yang menyatakan dirinya matahari
Perhatikanlah ia, Seluruh bukit yang kau cari ada di sana.

Puisi 5: Pernyataan Cinta

Bila tak kunyatakan keindahan-Mu dalam kata
Kusimpan kasih-Mu dalam dada
Bila kucium harum mawar tanpa cinta-Mu
Segera saja bagai duri bakarlah aku.

Meskipun aku diam tenang bagai ikan
Tapi aku gelisah pula bagai ombak dalam lautan
Kau yang telah menutup rapat bibirku
Tariklah misaiku ke dekat-Mu.

Apakah maksud-Mu?
Mana kutahu?
Aku hanya tahu bahwa aku siap dalam iringan ini selalu
Kukunyah lagi mamahan kepedihan mengenangmu.

Bagai unta memahah biak makanannya
Dan bagai unta yang geram mulutku berbusa
Meskipun aku tinggal tersembunyi dan tidak bicara
Di hadirat Kasih aku jelas dan nyata.

Aku bagai benih di bawah tanah
Aku menanti tanda musim semi
Hingga tanpa nafasku sendiri aku dapat bernafas wangi
Dan tanpa kepalaku sendiri aku dapat membelai kepala lagi.

Puisi 6: Tanpa Cinta, Segalanya Tak Bernilai

Jika engkau bukan seorang pencinta,
Maka jangan pandang hidupmu adalah hidup
Sebab tanpa Cinta, segala perbuatan tidak akan
Dihitung Pada Hari Perhitungan nanti.

Setiap waktu yang berlalu tanpa Cinta,
Akan menjelma menjadi wajah yang memalukan dihadapanNya.
Burung-burung Kesedaran telah turun dari langit
Dan terikat pada bumi sepanjang dua atau tiga hari.

Mereka merupakan bintang-bintang di langit
Agama yang dikirim dari langit ke bumi
Demikian pentingnya Penyatuan dengan Allah
Dan betapa menderitanya Keterpisahan denganNya.

Wahai angin, buatlah tarian ranting-ranting
Dalam zikir hari yang kau gerakkan dari Persatuan
Lihatlah pepohonan ini ! Semuanya gembira
Bagaikan sekumpulan kebahagiaan.

Tetapi wahai bunga Ungu, mengapakah engkau larut dalam kepedihan ?
Sang Lili berbisik pada kuncup : “Matamu yang menguncup akan segera mekar. Sebab engkau telah merasakan bagaimana Nikmatnya Kebaikan.”
Di manapun, jalan untuk mencapai Kesucian Hati adalah melalui Kerendahan Hati.
Hingga dia akan sampai pada jawaban “YA” dalam pertanyaan :
“Bukankah Aku ini Rabbmu ?”

Puisi 7: Bersama dengan-Mu

Bersama dengan-Mu
adalah satu-satunya sumber
kebahagiaanku.

Karena semua selain Engkau
adalah bentuk,
tapi hanya Engkau yang sungguh Haqq.

Jangan pernah pisahkan aku
dari-Mu,
karena tak mungkin
sebuah kapal berlayar
tanpa air.

Aku sebuah kitab yang cacat,
tapi ketika Engkau yang membaca,
Kau pulihkan aku.

Yusuf selamat
walau dikepung seratus serigala
ketika Engkau yang menjadi gembala.

Setiap kali Engkau bertanya,
“Bagaimana kabarmu?”
wajahku memucat
dan air-mataku bercucuran.

Ke dua hal itu hanya lah tanda
bagi mereka yang kasar dan rendah;
apa lah artinya tanda-tanda bagi-Mu,
yang tak memerlukan satu pun tanda.

Kau dengar bisikan tak terucapkan,
Kau baca niat tak tertulis.

Kau perlihatkan visi
di luar tidur;
tanpa air
Kau perjalankan kapal.

Wahai diriku: diam lah,
karena dari ketiadaan telah tiba sabda,
“Kau tak dapat melihat Ku.”

Puisi 8: Kemurahan Hati

Kemurahan hati seorang berpunya,
dinyatakan  dengan bersedekah harta.

Sedangkan kemurahan hati seorang pencinta,
dengan penyerahan jiwanya.

Jika kau berikan makanan
atas nama Tuhan,
maka kau akan diganjar lebih banyak makanan.

Sedangkan jika kau berikan jiwamu,
atas nama Tuhan,
maka kau akan diganjar dengan suatu Kehidupan Sejati.

Puisi 9: Engkau adalah Jalan Cinta

Engkau adalah Jalan Cinta,
dan di ujung sana tampak rumahku.

Engkau salah satu sosok di tengah khalayak
tapi hanya Engkau yang memakai mahkota.

Kulihat Engkau pada bintang-bintang,
pada matahari, pada rembulan.

Juga disini di padang rumput hijau,
dan di seberang sana, di atas tahta.

Puisi 10: Periksalah dengan Teliti

Mengenai lelangit yang sedemikian indah dan agung,
Tuhan bersabda: “… maka pandanglah berulang-kali…”.

Tentang atap cahaya itu,
janganlah puas hanya dengan sekali pandang,
periksalah dengan teliti,  “… adakah cacatnya?”

 Karena Dia telah memerintahkanmu
agar memeriksa dengan teliti atap yang sempurna itu
–bagaikan kau mencari kesalahan orang lain–

maka akan kau sadari,
betapa banyak pemeriksaan dan penyelidikan
yang diperlukan oleh bumi yang gelap,
agar memenuhi syarat.

Catatan:

“… maka lihatlah berulang-kali, adakah kau lihat sesuatu yang cacat? “

(QS al-Mulk [67]: 3).

Para pemuka ilmu hikmah menyatakan bahwa, 
“alam itu bagaikan insan yang besar,
sementara insan itu bagaikan alam yang kecil.”

“Memeriksa bumi yang gelap,” artinya meneliti aspek jasmaniah
diri seseorang, apakah sudah memenuhi aturan (syariah).

Puisi 11: Jika Tanpa Engkau

Hidup tanpa Engkau
adalah sebuah pelanggaran.

Tanpa Engkau,
kehidupan macam apa kujalani?

Wahai Cahaya hidupku,
setiap kehidupan yang berlalu,

Tanpa Engkau, berarti kematian;
Itulah makna hidup bagiku.

Puisi 12: Jalan Keyakinan

Ketika kau tuntun aku menapaki
Jalan keyakinan
Kau taruh amanah di pundakku
Agar ditegakkan hingga ajal.

“Tak kuat aku,” kadang ku menjerit,
“Beban ini terlalu berat”;
Bersama-Mu aku diperkuat,
Agar mampu memikul tugas.

Penutup

Yups, itulah beberapa kumpulan puisi Jalaluddin Rumi dari berbagai sumber. Semoga bisa menjadi inspirasi bagi kita semua dan juga bisa menambah wawasan kita

Baca juga: Kumpulan Puisi Taufik Ismail

Terima kasih telah mampir ke website ini, semoga nanti kedepannya bisa lebih baik lagi. Jangan lupa like, share, and coment.

Wassalam..

Kategori: Sastra

0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *